Oxford dan Mimpi Kuliah di Luar Negeri

Ronal Hutagalung

Awal Mimpi Anak Kuliah di Luar Negeri
Foto depan Bridge of Sighs_Oxford

Oxford dan Mimpi Kuliah di Luar Negeri


Sepuluh menit di New College Lane

Tahun 2015 saya berdiri di sebuah gang sempit di tengah kota Oxford. Namanya New College Lane. Dindingnya batu tinggi, hampir tanpa jendela, dan di atasnya melintang satu jembatan tertutup berwarna madu. Setiap orang yang lewat berhenti untuk memotretnya.

Saya ikut berhenti.

Orang menyebutnya Bridge of Sighs. Nama aslinya Hertford Bridge, dan umurnya tidak setua dugaan kebanyakan turis. Jembatan itu baru selesai tahun 1914, hasil rancangan Sir Thomas Jackson. Tugasnya sederhana saja: menyambung dua gedung Hertford College yang terpisah jalan, supaya mahasiswanya tidak perlu turun ke bawah setiap kali pindah ruang.

Saya berdiri di situ mungkin sepuluh menit. Waktu itu saya cuma melihat bangunan bagus. Bertahun-tahun kemudian, saya baru sadar jembatan itu menjelaskan hampir semua hal tentang alasan saya mendirikan sekolah.

Kota yang sudah mengajar sejak tahun 1096

Oxford bukan kampus dengan satu gerbang dan satu lapangan upacara. Kampusnya adalah kotanya sendiri, tersebar di puluhan college yang masing-masing punya aturan dan kebiasaan.

Pengajaran di sana sudah tercatat sejak tahun 1096. Itu membuatnya jadi universitas tertua di dunia yang berbahasa Inggris. Sembilan abad. Angka seperti itu susah dicerna kalau kita cuma membacanya sekilas.

Yang lebih menarik buat saya justru cara mereka mengajar. Mahasiswa Oxford belajar lewat sistem tutorial: kelompok kecil, kadang hanya dua tiga orang, duduk berhadapan dengan tutornya setiap minggu. Di ruangan sekecil itu tidak ada tempat bersembunyi. Kalau argumen Anda lemah, bisa ketahuan dalam lima menit.

Orang yang saya temui tanpa rencana

Bersama mas Rahmat Kurniawan, mahasiswa Doktoral jurusan engineering science

Saya datang ke Oxford bersama teman sebagai turis. Tidak ada agenda, tidak ada janji temu, tidak ada yang menunggu.

Saat sedang keliling melihat-lihat, bertemulah saya dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh program doktor di sana. Mas Rahmat Kurniawan namanya. Ia sedang mengambil program doktor di jurusan enginerring science. Obrolan kami melebar ke mana-mana, dan entah bagaimana ujungnya beliau menawarkan diri mengajak saya dan beberapa teman berkeliling.

Kami masuk ke ruang kelas yang muatnya cuma belasan orang. Kami menyusuri perpustakaan dengan rak-rak tinggi dan meja baca yang senyap. Shalat dzuhur sebentar di islamic centernya. dan lanjut keliling melihat kehidupan mahasiswa oxford. Mas Rahmat cerita kalau Maudy Ayunda juga sedang kuliah di oxford. Tahu hal itu, dengan iseng teman saya langsung bertanya tempat dimana Maudy kalau lagi nongkrong saat pulang kuliah.

Sepanjang jalan ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya. Bagaimana caranya orang Indonesia bisa sampai ke tempat seperti ini?

Beliau menjawabnya dengan santai. Beasiswa. Bukan warisan, bukan koneksi, bukan juga karena ayahnya profesor.

Kalimat yang dulu saya percaya penuh

Pulang dari Oxford, saya membawa satu kesimpulan yang waktu itu terasa kokoh. Siapa pun bisa, asal ada niat. Kalimat itu saya pakai bertahun-tahun di atas panggung. Kalimat yang isi pesannya juga ada dalam buku yang saya tulis. Sekarang saya tidak lagi percaya sepenuhnya.

Bukan karena kalimatnya salah. Masalahnya, kalimat itu berhenti terlalu cepat.

Belakangan, ketika menelusuri sejarah jembatan tadi, saya menemukan sesuatu yang bikin merinding.

Hertford College, pemilik jembatan itu, pada tahun 1965 mengangkat seorang dosen fisika bernama Neil Tanner sebagai kepala penerimaan mahasiswa. Oxford waktu itu praktis tertutup bagi anak sekolah negeri. Ujian masuknya menuntut satu semester tambahan di sekolah plus les privat, dua hal yang hanya sanggup dibayar keluarga mapan.

Anak-anak sekolah negeri itu bukannya kurang berniat. Mereka tidak punya jalan.

Tanner tidak berpidato soal semangat. Beliau dan dua rekannya justru naik kereta, mendatangi sekolah-sekolah negeri yang belum pernah sekali pun mengirim murid ke Oxford, lalu meminta kepala sekolahnya menunjuk anak terbaik mereka. Anak-anak itu mereka wawancarai lebih awal, di luar jalur resmi.

Hasilnya bukan cerita motivasi. Hertford naik dari juru kunci ke peringkat teratas klasemen akademik antar-college Oxford. College lain kemudian ikut mengubah cara mereka menyeleksi. Hari ini lebih dari 80 persen mahasiswa sarjana Hertford datang dari sekolah negeri.

Jadi jembatan yang saya potret tahun 2015 itu milik kampus yang, setengah abad sebelumnya, membangun jembatan jenis lain.

Bakat tersebar merata. Peluang tidak. Selalu ada orang yang harus membangun jalannya lebih dulu.

Saat pulang ke Gorontalo

Pertanyaan yang saya bawa pulang berubah bentuk. Bukan lagi bagaimana caranya anak Gorontalo bisa kuliah di luar negeri, melainkan siapa yang mau membangun jembatannya.

Brillikids Leadership School lahir dari situ.

Anak-anak memang belajar membaca dan berhitung di sekolah kami. Tapi target yang kami kejar jauh di depan, yaitu menyiapkan sebanyak mungkin anak Gorontalo supaya punya kesempatan nyata masuk kampus terbaik di Indonesia, dan terutama supaya mereka mampu kuliah di luar negeri lewat jalur beasiswa.

Karena itu kami memperlakukan bahasa Inggris sebagai alat berpikir, bukan daftar kosakata yang dihafal semalam sebelum ulangan. Kami juga concern soal leadership dan kebiasaan belajar mandiri, sebab tidak ada satu pun program beasiswa yang mau mengurus anak yang harus terus disuruh. Anak-anak kami latih public speaking.

Suatu hari nanti

Saya yakin dan percaya, akan ada anak Gorontalo yang berdiri di New College Lane, mendongak ke jembatan batu berwarna madu itu, persis seperti saya dulu.

Bedanya, dia tidak sedang mencari sudut foto. Dia sedang berjalan menuju kelasnya.

Jalan menuju kesana sudah ada, yang dibutuhkan niat dan usaha. Itulah sebabnya kami membangunnya sekarang melalui sekolah Brilli Kids.

Artikel Terkait