3 Filter agar Tim Berhenti Bertanya Terus

Ronal Hutagalung

Leadership skill for decision making
Leadership skill for decision making

Seorang manajer ritel mengeluh soal supervisornya. “Sedikit-sedikit tanya saya. Masa begitu saja tidak bisa diputuskan.”

Lalu saya minta dia menulis daftar keputusan yang boleh supervisor itu ambil tanpa izin. Ternyata dia tidak sanggup menyelesaikannya.

Karena itu, cara mengambil keputusan di tempat kerja biasanya macet bukan di orangnya, melainkan di sistemnya.

Masalahnya bukan nyali, melainkan saringan

Orang tersendat karena tidak punya saringan. Akibatnya, semua masalah terasa sama besar di kepala mereka. Selisih harga Rp 15.000 terasa seberat ancaman viral. Jadi, wajar kalau mereka membawa semuanya naik ke atasan.

Tiga filter cara mengambil keputusan di tempat kerja

Pertama, wewenang. Apakah saya berhak memutuskan ini? Filter ini berfungsi sebagai gerbang, bukan pertimbangan. Kalau jawabannya tidak, dua filter berikutnya tidak perlu kamu pakai.

Kedua, koreksi. Kalau saya salah, apakah masih bisa saya perbaiki? Uang bisa kembali, barang bisa turun dari rak, jadwal bisa bergeser. Semua itu risiko kecil. Sebaliknya, langkah tanpa jalan pulang selalu berisiko besar.

Ketiga, dampak. Apakah efeknya berhenti di area saya atau menyeberang ke divisi lain? Menyeberang bukan berarti minta izin. Menyeberang berarti wajib mengabari.

Empat simulasi kasus nyata

Kasus 1 — eksekusi langsung. Kasir salah input harga promo. Pelanggan rugi Rp 15.000 dan marah. Supervisor punya wewenang, kesalahannya mudah dia perbaiki, dampaknya lokal. Maka ganti selisihnya sekarang juga.

Kasus 2 — eksekusi lalu kabari. Rak display menghalangi jalur troli, padahal tata letak milik tim merchandising. Supervisor berwenang atas keselamatan area dan dia bisa mengembalikan rak kapan saja. Jadi, pindahkan hari itu, lalu kirim foto serta alasannya.

Kasus 3 — eskalasi dengan usul. Pelanggan menuntut refund tunai Rp 2 juta. Kebijakan toko hanya membolehkan tukar barang. Supervisor berhenti di filter pertama. Namun jangan datang dengan pertanyaan kosong. Sampaikan usul: “Saya sarankan tukar barang plus voucher Rp 200.000.”

Kasus 4 — eksekusi sekaligus lapor. Lantai lorong utama basah saat jam ramai. Menutup lorong itu wewenang supervisor, tetapi penjualan ikut terpukul dan jam sibuk itu tidak akan kembali. Karena itu, tutup lorongnya sekarang dan lapor menit itu juga.

Berapa keputusan yang seharusnya naik?

Perhatikan hasilnya. Dari empat situasi, hanya satu yang benar-benar butuh persetujuan atasan. Dua lainnya bisa supervisor jalankan sendiri. Satu lagi dia jalankan sambil mengabari.

Perbandingan itu sehat. Sebaliknya, kalau di tim kamu angkanya terbalik, masalahnya kemungkinan besar bukan pada orangnya.

Langkah pertama malam ini

Tulis satu halaman. Cantumkan keputusan apa saja yang boleh tim kamu ambil tanpa bertanya, sampai batas rupiah berapa, dan hal apa yang cukup mereka kabari tanpa izin.

Kalau kamu sendiri kesulitan menuliskannya, kamu baru saja menemukan sumber frustrasimu.

Artikel Terkait