Pidato Steve Jobs Dan Brilli Kids

Ronal Hutagalung

Connecting the Dots: Tiga Titik yang Melahirkan Brillikids
Connecting the Dots: Tiga Titik yang Melahirkan Brillikids

Pidato yang tidak pernah basi

Juni 2005, Steve Jobs berdiri di depan wisudawan Stanford. Dia tidak bawa slide. Dia cuma bilang akan bercerita tiga hal tentang hidupnya, lalu selesai.

Cerita pertama soal titik-titik yang saling terhubung. Cerita kedua soal cinta dan kehilangan, termasuk saat saat perusahaan yang dia dirikan sendiri menendangnya keluar. Cerita ketiga soal kematian, Dimana orang yang menyampaikannya baru menerima vonis kanker pankreasnkreas.

Orang paling sering mengutip kalimat penutup pidato ini “Stay hungry, stay foolish.” Padahal buat saya, bagian paling berguna justru ada di cerita pertama.

Kalimatnya kira-kira begini: Anda tidak bisa menghubungkan titik-titik dengan melihat ke depan. Anda cuma bisa menghubungkannya sambil menoleh ke belakang.

Kelas kaligrafi yang tidak ada gunanya

Jobs masuk Reed College, lalu keluar setelah satu semester. Uang kuliahnya mahal dan dia merasa tidak menemukan apa-apa yang dia cari di sana.

Anehnya dia tidak pulang. Dia menumpang tidur di lantai kamar teman-temannya dan tetap ikut kelas, bedanya sekarang dia ikut kelas yang dia mau saja. Salah satunya kelas kaligrafi asuhan Robert Palladino, mantan biarawan Trappist yang belajar menulis indah selama bertahun-tahun di biara.

Reed waktu itu punya program kaligrafi terbaik di Amerika. Setiap poster di kampus, bahkan setiap label laci, memakai tulisan tangan dengan rapi. Jobs belajar soal serif dan sans serif, soal jarak antar huruf, soal apa yang membuat sebuah huruf enak dipandang.

Dia sendiri mengaku kelas itu tidak punya harapan sama sekali untuk berguna dalam hidupnya.

Sepuluh tahun kemudian tim Apple merancang Macintosh pertama. Semua yang dia pelajari di kelas kaligrafi itu kembali, dan mereka menanamkannya ke dalam mesin tersebut. Macintosh jadi komputer pertama yang punya tipografi bagus.

Bagian yang perlu diluruskan

Cerita ini benar, namun orang sering melebih-lebihkannya waktu menceritakan ulang.

Jobs tidak menggambar sendiri font-font itu. Susan Kare yang mendesain huruf dan ikon Macintosh. Apple juga bukan penemu huruf berjarak proporsional, sebab percetakan sudah memakainya berabad-abad sebelumnya.

Yang benar-benar datang dari kelas kaligrafi itu adalah seleranya. Jobs jadi tahu bedanya huruf yang bagus dan huruf yang asal jadi, lalu dia memaksa timnya mengurus hal yang di mata orang lain sepele. Palladino sendiri sampai akhir hayatnya tahun 2016 tidak pernah punya komputer.

Jadi titiknya bukan keterampilan. Titiknya adalah rasa.

Titik-titik saya sendiri

Saya bukan Steve Jobs dan Brillikids Leadership School bukan Apple. Tapi cara kerja titik-titik itu ternyata sama saja.

Waktu saya menoleh ke belakang, ada tiga momen yang sama sekali tidak nyambung ketika saya mengalaminya. Tiga-tiganya terpisah belasan tahun. Tidak satu pun saya rencanakan.

Titik pertama: Gorontalo, 1997

Tahun 1997 saya masuk di sebuah sekolah baru di Gorontalo. Orang menyebutnya Magnet School sebelum namanya berubah jadi SMU Insan Cendekia.

Sekolah itu bukan proyek dinas pendidikan biasa. Idenya datang dari Pak Habibie, waktu itu Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala BPPT.

Pak Habibie melihat masalah yang jarang dibicarakan orang pada era 1990-an. Sekolah umum dan sekolah agama berjalan di dua rel terpisah. Anak pesantren dianggap kuat imannya tapi tertinggal sainsnya. Anak sekolah umum sebaliknya.

BPPT lalu membentuk program bernama STEP, singkatan dari Science and Technology Equity Program. Tujuannya menyetarakan penguasaan sains dan teknologi untuk sekolah di lingkungan pesantren. Dua lokasi yang dipilih cuma Serpong dan Gorontalo.

Filosofinya mereka ambil dari magnet school. Satu sekolah dibangun sedemikian rupa sampai sekolah-sekolah di sekitarnya ikut terpancing berprestasi, sambil menyiapkan calon pemimpin bangsa.

Saya baru paham arti kata “magnet” itu jauh belakangan. Waktu itu saya cuma seorang anak yang tiba-tiba duduk di kelas bersama anak-anak terbaik dari berbagai daerah, dan sadar bahwa daerah kecil pun bisa jadi tempat sekolah hebat berdiri.

Visi Pak Habibie itu menempel di kepala saya dan tidak pernah benar-benar lepas.

Titik kedua: sebuah buku, 2009

Sejak kuliah saya sangat haus soal kepemimpinan. Saya banyak baca buku dan ikut pelatihan. Di tahun 2009 saya membeli buku berjudul The Leader in Me karya Stephen Covey, dan saya pikir isinya tentang cara membangun jiwa pemimpin dalam diri sendiri.

Saya salah total.

Buku itu ternyata bercerita tentang sebuah sekolah dasar bernama A.B. Combs di Raleigh, Carolina Utara. Kepala sekolahnya, Muriel Summers, pernah bertanya kepada Covey apakah tujuh kebiasaan dalam bukunya bisa diajarkan ke anak lima tahun. Covey menjawab kurang lebih: kenapa tidak, coba saja, nanti kabari saya.

Summers benar-benar mencobanya. Anak-anak sekolah dasar itu diberi peran kepemimpinan, menetapkan target sendiri, dan mencatat kemajuan mereka di buku masing-masing. Banyak keputusan di sekolah itu diambil oleh murid, bukan guru.

Ada satu detail yang baru saya sadari bertahun-tahun kemudian. A.B. Combs juga sebuah magnet school, dan kepemimpinan mereka pilih sebagai tema magnetnya. Sekolah itu dua kali dinobatkan sebagai magnet school terbaik di Amerika.

Saya membuka buku itu untuk memperbaiki diri sendiri. Saya menutupnya dengan satu pertanyaan lain: bisakah kepemimpinan diajarkan sejak anak masih sangat kecil?

Titik ketiga: Oxford, 2015

Titik ketiga sudah pernah saya ceritakan lengkap di Oxford dan Mimpi Kuliah di Luar Negeri.

Singkatnya, saya berdiri sepuluh menit di sebuah gang sempit bernama New College Lane, memotret jembatan tua milik Hertford College. Di sana saya berkenalan dengan Mas Rahmat Kurniawan, mahasiswa doktoral engineering science asal Indonesia, yang kuliah di Oxford lewat beasiswa.

Belakangan saya baru tahu bahwa Hertford College adalah kampus yang pada 1965 sengaja mendatangi sekolah-sekolah negeri miskin di Inggris, sekolah yang belum pernah sekali pun mengirim murid ke Oxford.

Dua hal itu menabrak saya sekaligus. Peluang ternyata nyata. Tapi peluang juga harus ada yang membangunkan jalannya.

Ketika tiga titik itu bertemu

Coba perhatikan tiga titik tadi.

SMA yang sengaja dibangun di daerah Gorontalo untuk menarik daerah itu naik kelas. Sebuah SD yang membuktikan anak kecil sanggup belajar memimpin. Dan kampus tua yang membuka pintunya untuk anak-anak yang tidak punya jalur masuk.

Belasan tahun ketiganya berdiri sendiri-sendiri di kepala saya. Tidak ada benang. Juga tanpa rencana.

Lalu Brillikids Leadership School berdiri di Gorontalo, dan saya baru sadar sekolah ini bukan ide baru, namun gabungan dari tiga titik yang sudah lama ada di sana, cuma menunggu disambung.

Jujur saja kesadaran ini datang belakangan, bukan di awal. Persis seperti kata Jobs, titik-titik itu hanya terbaca sambil menoleh ke belakang. Kalau tahun 1997 ada yang bilang sekolah saya waktu itu akan jadi cetak biru sekolah yang saya dirikan tiga puluh tahun kemudian, saya pasti ketawa.

Setiap momen itu sebuah titik

Ini bagian yang ingin saya sampaikan ke orang tua mana pun yang membaca sampai sini.

Kita tidak pernah tahu titik mana yang kelak berguna bagi anak kita. Kelas kaligrafi yang tidak ada gunanya itu ternyata mengubah tampilan semua layar di dunia.

Karena itu pekerjaan kita bukan menebak masa depan anak. Pekerjaan kita menyediakan tempat yang memberi dia banyak kesempatan membuat titik.

Tempat yang membiarkan dia mencoba dan gagal tanpa dipermalukan. Sekolah yang melatih sikap dan kepemimpinannya sejak kecil, bukan hanya mengejar nilai ulangan. Lingkungan yang membuatnya berani berdiri dan bicara.

Semakin banyak titik yang dia punya, semakin banyak kemungkinan yang bisa tersambung suatu hari nanti.

Dan seperti kita semua, dia baru akan tahu bentuk gambarnya jauh di belakang hari.

Artikel Terkait