Cara UMKM Mencetak Team Leader Sendiri

Ronal Hutagalung

Leadership pipeline UMKM, pemilik usaha melatih team leader
Leadership Pipeline | Coach Ronal Hutagalung

Mengapa banyak UMKM berhenti tumbuh padahal produknya laku? Sebagai business coach, saya menemukan jawabannya berulang kali. Ternyata masalahnya jarang ada di pasar. Kendalanya justru ada di tim, tepatnya pada tidak adanya leadership pipeline.

Seorang pemilik usaha ritel pernah mengeluh kepada saya. Usahanya sedang berkembang pesat dengan jumlah karyawan hingga seratusan. Namun, ia masih harus turun tangan untuk berbagai hal.

“Coach Ronal, saya sudah angkat karyawan terbaik jadi leader. Tapi kok tetap saya yang pusing?”

Saya bertanya balik, “Setelah naik jabatan, apa yang sekarang ia kerjakan setiap hari?”

Ia berpikir sebentar. Lalu ia tertawa kecut. “Mengerjakan apa yang menjadi tugasnya selama ini sambil mengawasi teman-temannya.”

Jebakan Karyawan Terbaik

Cerita seperti ini sangat umum. Pemilik usaha mengangkat orang yang paling terampil. Padahal, terampil bekerja dan terampil memimpin adalah dua hal yang berbeda.

Gallup bahkan menemukan bahwa perusahaan salah memilih calon manajer pada 82 persen kasus. Penyebab utamanya sederhana. Mereka memilih berdasarkan prestasi teknis, bukan bakat memimpin.

Akibatnya, UMKM kehilangan dua hal sekaligus. Pertama, usaha kehilangan pekerja terbaiknya. Kedua, usaha tetap tidak punya pemimpin.

Apa Itu Leadership Pipeline?

Ram Charan, Stephen Drotter, dan James Noel memperkenalkan konsep leadership pipeline dalam buku The Leadership Pipeline pada 2001. Mereka meneliti bagaimana perusahaan menyiapkan pemimpin dari level ke level.

Temuan intinya cukup tajam. Setiap kenaikan jabatan menuntut perubahan dalam tiga hal, yaitu keterampilan, cara memakai waktu, dan nilai kerja. Kalau ketiganya tidak berubah, orang itu hanya pindah kursi.

Charan menggambarkan enam tikungan dalam jalur kepemimpinan. Untuk UMKM, tiga tikungan pertama sudah lebih dari cukup.

Tiga Tikungan Leadership Pipeline untuk UMKM

1. Dari Bekerja Sendiri ke Memimpin Orang Lain

Inilah tikungan yang paling sering gagal. Sebelumnya, atasan menilai seseorang dari hasil kerjanya sendiri. Sekarang, ukurannya adalah hasil kerja timnya.

Karena itu, ia perlu belajar keterampilan baru. Contohnya merencanakan pekerjaan, membagi tugas, memberi umpan balik, dan melatih anggota tim.

Waktunya pun harus bergeser. Jika dulu ia sibuk membuat kue, kini sebagian besar waktunya untuk memastikan orang lain membuat kue dengan benar.

Selain itu, nilai kerjanya ikut berubah. Ia harus mulai merasa bangga saat timnya berhasil, bukan hanya saat dirinya menonjol.

2. Dari Memimpin Orang ke Memimpin Pemimpin

Tikungan kedua muncul ketika usaha mulai punya beberapa cabang atau divisi. Di sini, manajer tidak lagi memimpin pelaksana. Sebaliknya, ia memimpin para kepala tim.

Tugas utamanya adalah memilih kepala tim yang tepat, lalu melatih mereka. Dengan kata lain, ia mencetak pemimpin, bukan sekadar mengawasi pekerjaan.

3. Tikungan Milik Pemilik Usaha

Bagian ini sering terlupa. Pemilik UMKM juga harus melewati tikungannya sendiri.

Banyak pemilik masih bekerja seperti pelaksana paling senior. Mereka memeriksa semua transaksi dan memutuskan hal-hal kecil. Akibatnya, kepala tim tidak pernah belajar mengambil keputusan.

Oleh karena itu, pemilik perlu menggeser waktunya ke urusan strategis. Misalnya membangun sistem, mencari peluang baru, dan menyiapkan calon pemimpin berikutnya.

Langkah Praktis Membangun Leadership Pipeline

Anda tidak perlu menunggu usaha menjadi besar. Mulailah dari tiga langkah sederhana berikut.

Pertama, petakan level di usaha Anda. Tulis siapa pelaksana, siapa kepala tim, dan siapa yang memimpin kepala tim. Kemudian, tuliskan perubahan keterampilan, waktu, dan nilai kerja yang dibutuhkan pada setiap level.

Kedua, siapkan sebelum mengangkat. Beri calon kepala tim tugas kecil untuk memimpin, misalnya mengelola satu shift. Setelah itu, amati apakah ia mampu menggerakkan orang lain.

Ketiga, dampingi tiga bulan pertama. Masa ini paling rawan karena orang cenderung kembali ke pekerjaan lamanya. Jadi, jadwalkan obrolan rutin setiap minggu tentang cara ia memakai waktunya.

Penutup

Kembali ke pemilik toko ritel tadi. Setelah memetakan jalurnya, ia sadar orang yang ditunjuknya tidak pernah diajari memimpin. Ia hanya diberikan tugas tambahan.

Pada akhirnya, UMKM tidak tumbuh karena pemiliknya bekerja paling keras. Usaha justru tumbuh ketika pemiliknya membangun leadership pipeline yang terus mencetak pemimpin baru.

Lalu, siapa calon team leader di usaha Anda yang perlu Anda siapkan mulai minggu ini?

Artikel Terkait