5 Cara Membangun Harga Diri Anak yang Sehat Menurut Riset

Ronal Hutagalung

membangun harga diri anak yang sehat
membangun harga diri anak yang sehat

Smart Parents, setiap orang tua ingin anaknya tumbuh dengan harga diri yang kuat. Kita ingin anak menyukai dirinya, merasa mampu, dan tidak mudah runtuh saat menghadapi kegagalan. Namun, bagaimana caranya? Apakah dengan terus memuji? Atau dengan menjauhkan anak dari kegagalan?

Ternyata, kedua cara itu justru bisa merugikan dalam jangka panjang. Harga diri anak yang sehat tumbuh dari tiga bahan utama, yaitu merasa mampu, diterima, dan dicintai tanpa syarat.

Harga Diri yang Sehat, Bukan yang Berlebihan

Sebelum masuk ke caranya, ada satu hal penting yang perlu kita pahami. Harga diri yang sehat berbeda dengan merasa diri paling hebat.

Psikolog Eddie Brummelman meneliti hal ini pada 2015. Ia menemukan bahwa anak yang orang tuanya terus menyanjungnya sebagai “lebih istimewa dari anak lain” cenderung tumbuh narsistik. Sebaliknya, anak yang mendapat kehangatan dan kasih sayang tumbuh dengan harga diri yang lebih sehat.

Jadi, tujuan kita bukan membuat anak merasa paling hebat. Tujuan kita adalah membuat anak merasa berharga apa adanya.

1. Beri Anak Pilihan dan Tanggung Jawab

Anak merasa mampu saat orang tua memberinya kesempatan untuk memilih dan bertanggung jawab. Mulailah dari hal kecil.

Untuk anak usia dini, beri dua pilihan sederhana. Misalnya, “Mau sarapan nasi goreng atau roti?” atau “Mau pakai baju biru atau merah?” Pilihan kecil seperti ini membuat anak merasa punya kendali.

Selain itu, beri tugas rumah sesuai usianya. Anak kecil bisa menata sandal, menyiram tanaman, atau membantu menyiapkan meja makan. Sementara itu, anak yang lebih besar bisa melipat baju atau membantu memasak.

Pada awalnya, tunjukkan caranya dan dampingi anak. Setelah itu, biarkan ia mengerjakannya sendiri, meskipun hasilnya belum sempurna. Lewat tugas ini, anak merasa dirinya berguna bagi keluarga.

2. Puji dengan Tulus dan Spesifik

Banyak orang tua mengira pujian sebanyak-banyaknya akan menumbuhkan harga diri. Padahal, pujian yang berlebihan justru bisa berbalik arah.

Psikolog Jennifer Henderlong dan Mark Lepper meninjau puluhan tahun penelitian tentang pujian. Mereka menemukan bahwa pujian yang tidak tulus bisa membuat anak curiga. Anak bisa mengira orang tuanya sedang kasihan padanya, bahkan sedang memanipulasinya.

Menariknya, anak yang lebih besar makin peka terhadap pujian berlebihan. Beberapa penelitian menunjukkan, anak usia sekolah bisa menganggap pujian yang terlalu sering sebagai tanda bahwa gurunya meragukan kemampuannya.

Karena itu, puji anak dengan tulus dan spesifik. Ganti “Kamu pelukis terhebat di dunia!” dengan “Bunda suka warna langit yang kamu pilih.” Pujian yang spesifik terasa lebih jujur dan lebih bermakna.

3. Jadikan Kegagalan Kesempatan Belajar

Kegagalan tidak selalu meruntuhkan harga diri anak. Justru, kegagalan bisa menjadi kesempatan emas untuk membangunnya.

Biarkan anak mencoba hal baru, berbuat salah, dan sesekali gagal. Setelah itu, tunjukkan bahwa kasih sayang Anda tetap sama.

Hal ini sangat penting. Jika kita hanya memperhatikan nilai rapor dan piala, anak bisa berpikir bahwa cinta orang tua bergantung pada prestasinya. Sebaliknya, saat anak tahu cintanya tidak bersyarat, ia merasa aman untuk mencoba lagi.

4. Hindari Kritik Kasar dan Sindiran

Orang tua juga manusia. Kadang kita lelah, lalu mengucapkan kata-kata yang kita sesali.

Namun, perlu kita ingat bahwa cara kita memandang anak akan membentuk cara anak memandang dirinya. Kalimat seperti “Kamu pemalas!” atau “Kok kamu bodoh sekali?” bisa melekat lama di benak anak.

Saat emosi memuncak, ambil jeda sejenak. Tarik napas, lalu bicara setelah tenang.

Tentu saja, kita tetap perlu mengoreksi perilaku anak. Berikut panduan sederhana agar koreksi tetap sehat:

  • Jangan menegur anak di depan orang lain.
  • Jangan menegur saat Anda sedang marah.
  • Fokus pada perilaku, bukan pada pribadi anak.
  • Sampaikan dengan lembut dan jelas.

Selain itu, tegaskan kepada anak, “Bunda tidak suka perilakumu tadi, tapi Bunda selalu sayang kamu.”

5. Ciptakan Kesempatan untuk Berhasil

Kita tidak perlu melindungi anak dari semua kegagalan. Namun, kita bisa menciptakan lebih banyak kesempatan baginya untuk berhasil.

Pertama, beri tantangan yang pas. Tantangan yang terlalu mudah membuat anak bosan. Sebaliknya, tantangan yang terlalu sulit membuatnya putus asa.

Misalnya, anak frustrasi karena buku bacaannya terlalu sulit. Sementara waktu, beri buku yang sedikit lebih mudah. Setelah berhasil menyelesaikannya, ia akan lebih percaya diri menghadapi buku yang lebih sulit.

Kedua, fokus pada kekuatan anak. Perhatikan apa yang ia sukai dan kuasai, lalu beri ruang untuk mengembangkannya. Bisa jadi, anak lebih suka sains daripada olahraga. Hal itu sama sekali tidak masalah. Anak perlu merasa diterima apa adanya, bukan dibandingkan dengan anak lain.

Membangun Harga Diri Anak Setiap Hari

Smart Parents tidak perlu melakukan semuanya sekaligus. Pilih satu cara minggu ini. Misalnya, beri anak satu tugas rumah baru, atau ganti satu pujian umum dengan pujian yang spesifik.

Di Brillikids Leadership School, kami membangun harga diri anak lewat tanggung jawab, kesempatan memimpin, dan penghargaan atas usaha. Kebiasaan ini akan jauh lebih kuat jika orang tua juga menerapkannya di rumah.

Pada akhirnya, harga diri anak tidak tumbuh dari sanjungan. Ia tumbuh dari rasa mampu, rasa diterima, dan keyakinan bahwa ia dicintai tanpa syarat.

Artikel Terkait