6 Keyakinan Orang Tua Efektif yang Mengubah Cara Anak Belajar

Ronal Hutagalung

6 keyakinan inti orang tua efektif
6 keyakinan inti orang tua efektif

Apa yang membedakan orang tua efektif dari orang tua yang terus kelelahan? Jawabannya ternyata bukan pada teknik. Perbedaannya ada pada keyakinan yang mereka pegang tentang anak.

Bayangkan pagi yang sibuk. Anak Ayah dan Bunda menolak memakai sepatu, padahal jemputan sudah menunggu. Suara pun mulai meninggi. “Kenapa sih kamu nakal sekali?”

Situasi seperti ini sangat wajar. Namun, cara kita membaca situasi itu akan menentukan apa yang anak pelajari. Di Brillikids Leadership School, kami percaya kepemimpinan anak tumbuh dari rumah. Karena itu, mari kita bahas enam keyakinan dasar yang bisa Ayah dan Bunda mulai terapkan.

1. Anak Tidak Nakal

Setiap perilaku anak punya tujuan. Mereka sedang berusaha memenuhi kebutuhan, misalnya rasa lapar, lelah, ingin diperhatikan, atau ingin punya kendali.

Anak yang menolak memakai sepatu mungkin masih mengantuk. Bisa juga ia ingin memilih sepatunya sendiri. Jadi, kata “nakal” hanyalah label. Label itu menutup pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang sebenarnya anak butuhkan?

2. Parenting Adalah Hubungan

Banyak orang tua mengira tugas utamanya adalah membuat anak patuh. Padahal, parenting bukan urusan kontrol.

Pada dasarnya, parenting adalah hubungan antara dua manusia. Anak lebih mudah mendengar orang yang ia percayai. Sebaliknya, kepatuhan tanpa hubungan biasanya hanya bertahan selama orang tua mengawasi.

3. Tidak Ada Musuh di Rumah

Saat terjadi konflik, sering kali rumah berubah menjadi arena menang-kalah. Orang tua ingin menang, sementara anak pun ingin menang.

Thomas Gordon, penulis buku Parent Effectiveness Training, menawarkan cara pandang lain. Menurutnya, anak dan orang tua sama-sama punya kebutuhan yang sah. Tugas kita adalah mencari solusi yang memenuhi keduanya. Misalnya, orang tua butuh berangkat tepat waktu, sedangkan anak butuh rasa memilih. Solusinya? Siapkan dua pasang sepatu sejak malam, lalu biarkan anak memilih.

4. Tanpa Iming-Iming Hadiah dan Ancaman Hukuman

Keyakinan ini sering mengejutkan orang tua. Mengapa tidak memakai hadiah atau hukuman?

Alasannya bukan karena hadiah itu salah. Ada cara yang lebih efektif untuk jangka panjang. Edward Deci dan Richard Ryan meneliti motivasi selama puluhan tahun. Temuan mereka menunjukkan bahwa hadiah berupa barang justru bisa melemahkan motivasi dari dalam diri anak.

Contohnya, anak yang menerima bayaran untuk membaca cenderung berhenti membaca saat bayarannya hilang. Di sisi lain, ancaman hukuman membuat anak belajar menghindari ketahuan, bukan belajar berbuat benar.

Meski begitu, tanpa hukuman bukan berarti tanpa batas. Batas tetap perlu, tetapi sampaikan dengan tenang dan jelaskan alasannya.

5. Pertimbangan, Bukan Kepatuhan

Kita ingin anak berbuat baik karena ia peduli. Kita tidak ingin anak berbuat baik hanya karena takut.

Perbedaan ini sangat menentukan masa depannya. Anak yang hanya patuh akan bingung saat orang tua tidak ada. Sebaliknya, anak yang terbiasa menimbang akan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa dampak tindakanku bagi orang lain?”

Karena itu, ajak anak berpikir. Ganti “Pokoknya jangan!” dengan “Menurutmu, kalau mainanmu dilempar, apa yang bisa terjadi?”

6. Kita Hanya Bisa Mengubah Diri Sendiri

Keyakinan terakhir ini mungkin paling berat. Kita tidak bisa memaksa anak berubah. Namun, kita selalu bisa mengubah cara kita merespons.

Saat kita lebih tenang, anak ikut belajar tenang. Begitu pula saat kita mendengar lebih banyak, anak juga belajar mendengar. Dengan kata lain, kita memengaruhi anak lewat hubungan, bukan lewat paksaan.

Menjadi Orang Tua Efektif, Mulai dari Satu Keyakinan

Ayah dan Bunda tidak perlu menerapkan keenam keyakinan ini sekaligus. Pilih satu yang paling terasa relevan minggu ini.

Misalnya, mulailah dari keyakinan pertama. Setiap kali muncul kata “nakal” di kepala, ganti dengan satu pertanyaan sederhana: “Apa yang sedang ia butuhkan?”

Perubahan kecil ini sejalan dengan cara kami mendampingi anak di Brillikids Leadership School. Kami percaya setiap anak bisa menjadi pemimpin, dan kepemimpinan itu bermula dari hubungan yang sehat dengan orang tuanya.

Pada akhirnya, orang tua efektif bukan orang tua yang sempurna. Mereka adalah orang tua yang mau terus belajar bersama anaknya.

Artikel Terkait