Smart Parents, coba ingat kalimat terakhir yang Anda ucapkan saat kesal pada anak. Apakah kalimat itu berawal dengan kata “kamu”? Misalnya, “Kamu ini berantakan banget!” Kalimat seperti ini sangat umum. Namun, ada cara lain yang jauh lebih efektif, yaitu pesan-aku.
Thomas Gordon memperkenalkan pesan-aku atau I-message dalam buku Parent Effectiveness Training. Skill ini cocok untuk area “orang tua punya masalah”. Artinya, perilaku anak sedang mengganggu kebutuhan Anda.
Apa Bedanya Pesan-Kamu dan Pesan-Aku?
Pesan-kamu berfokus pada anak. Biasanya, kalimatnya berisi label, tuduhan, atau penilaian. Contohnya, “Kamu pemalas!” atau “Kamu nggak bisa diandalkan!”
Sebaliknya, pesan-aku berfokus pada dampak perilaku anak bagi orang tua. Kalimatnya menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang Anda rasakan. Kita tidak menyerang pribadi anak.
Perbedaannya terlihat sederhana. Namun, efeknya bagi anak sangat berbeda.
Mengapa Pesan-Kamu Membuat Anak Melawan?
Saat mendengar pesan-kamu, anak merasa diserang. Akibatnya, otaknya sibuk membela diri. Ia membantah, cemberut, atau diam sambil menyimpan kesal.
Riset pun mendukung hal ini. Pada 1992, psikolog Edward Kubany dan rekannya membandingkan reaksi remaja terhadap dua jenis kalimat. Hasilnya, kalimat yang menuduh dengan kata “kamu” memicu lebih banyak rasa marah dan permusuhan. Sementara itu, kalimat yang menyampaikan perasaan pembicara justru memancing respons yang lebih tenang.
Selain itu, label seperti “pemalas” bisa melekat pada diri anak. Lama-kelamaan, anak mulai percaya bahwa dirinya memang pemalas.
Rumus Pesan-Aku dalam Tiga Bagian
Pesan yang lengkap terdiri dari tiga bagian.
Pertama, sebutkan perilakunya. Gambarkan apa yang terjadi tanpa menghakimi. Contohnya, “Saat mainan berserakan di lantai…”
Kedua, jelaskan dampaknya. Sampaikan akibat nyata perilaku itu bagi Anda. Misalnya, “…Mama gampang kesandung…”
Ketiga, ungkapkan perasaan Anda. Katakan dengan jujur, misalnya, “…dan Mama jadi takut jatuh.”
Jika Anda menggabungkannya, kalimatnya menjadi, “Saat mainan berserakan di lantai, Mama gampang kesandung, dan Mama jadi takut jatuh.”
Contoh Pesan-Kamu dan Pesan-Aku
Mainan Berserakan
Pesan-kamu: “Kamu ini berantakan banget!”
Pesan-aku: “Saat mainan berserakan, Mama gampang kesandung.”
TV Terlalu Keras
Pesan-kamu: “Kamu nggak peka ya, suaranya keras banget!”
Pesan-aku: “Saat suara TV keras, Bunda susah mendengar telepon.”
Pulang Terlambat
Pesan-kamu: “Kamu nggak bisa diandalkan!”
Pesan-aku: “Saat kamu pulang telat tanpa kabar, Mama panik dan khawatir.”
Lupa Cuci Piring
Pesan-kamu: “Kamu pemalas!”
Pesan-aku: “Saat piring menumpuk, Mama jadi capek karena kerjanya dobel.”
Perhatikan polanya. Kalimat jenis ini membiarkan anak menyimpulkan sendiri apa yang perlu ia lakukan. Dengan begitu, anak bergerak karena peduli, bukan karena takut.
Hal yang Perlu Anda Perhatikan
Pertama, jangan sampai pesan-aku berubah menjadi pesan-kamu yang tersamar. Misalnya, “Mama sedih karena kamu memang anak yang malas.” Kalimat ini tetap memberi label.
Selain itu, jangan berlebihan saat mengungkapkan perasaan. Jika Anda hanya sedikit terganggu, katakan apa adanya. Ungkapan perasaan yang terlalu dramatis justru bisa membuat anak merasa sangat bersalah.
Terakhir, cara ini tidak menjamin anak langsung menurut. Kadang anak membela diri. Jika itu terjadi, beralihlah sejenak ke mendengar aktif, lalu sampaikan kembali pesan Anda.
Mulai Latih Pesan-Aku Hari Ini
Smart Parents bisa mulai dari satu situasi yang paling sering terjadi di rumah. Tuliskan pesan-kamu yang biasa Anda ucapkan. Kemudian, ubah dengan rumus tiga bagian tadi.
Di Brillikids Leadership School, kami melatih anak untuk menyampaikan perasaan tanpa menyalahkan orang lain. Kebiasaan ini akan tumbuh lebih cepat jika anak sering mendengar contohnya dari orang tua.
Pada akhirnya, pesan-aku mengajarkan satu hal penting. Kita bisa jujur tentang perasaan kita tanpa melukai orang yang kita sayangi.






