Smart Parents, konflik dengan anak adalah hal yang wajar. Anak ingin bermain lebih lama, sementara Anda ingin ia segera tidur. Di lain waktu, anak ingin memakai baju tertentu, padahal Anda harus segera berangkat. Masalahnya bukan pada konflik itu sendiri. Yang terpenting adalah cara kita menyelesaikannya.
Dalam artikel sebelumnya, kita belajar mendengar aktif saat anak punya masalah. Kita juga belajar pesan-aku saat orang tua punya masalah. Lalu, bagaimana jika keduanya sama-sama punya masalah?
Di sinilah kita membutuhkan win-win resolution.
Tiga Cara Orang Tua Menyelesaikan Konflik
Thomas Gordon, penulis Parent Effectiveness Training, mengamati bahwa orang tua biasanya memakai salah satu dari tiga cara.
Cara pertama: orang tua menang. Orang tua memutuskan, lalu anak harus menurut. Konflik memang cepat selesai. Namun, anak merasa kalah. Akibatnya, ia bisa melawan diam-diam atau kehilangan motivasi.
Cara kedua: anak menang. Orang tua mengalah agar anak berhenti merengek. Suasana memang kembali tenang. Sayangnya, orang tua menyimpan kesal, dan anak belajar bahwa rengekan selalu berhasil.
Cara ketiga: semua menang. Orang tua dan anak mencari solusi bersama. Hasilnya, kebutuhan kedua pihak sama-sama terpenuhi.
Gordon menyebut cara ketiga sebagai metode tanpa kalah. Inilah inti dari win-win resolution.
Mengapa Win-Win Lebih Efektif?
Ada satu prinsip yang layak kita renungkan. Tidak ada orang tua yang benar-benar menang dengan mengalahkan anaknya. Begitu pula, tidak ada anak yang tumbuh sehat jika selalu kalah dari orang tuanya.
Saat anak ikut menyusun solusi, ia merasa dihargai. Selain itu, anak lebih mungkin menjalankan aturan yang ia buat sendiri. Psikolog Edward Deci dan Richard Ryan menyebut hal ini sebagai kebutuhan akan otonomi. Orang lebih bersemangat menjalankan pilihan yang ia ikut tentukan.
Lebih jauh lagi, anak belajar skill penting untuk masa depannya. Ia belajar bernegosiasi, berempati, dan memecahkan masalah.
6 Langkah Menyelesaikan Konflik dengan Anak
Bayangkan konflik yang sering terjadi. Anak ingin bermain gawai sepulang sekolah, sedangkan Anda ingin ia mengerjakan PR lebih dulu.
1. Kenali Kebutuhan Masing-Masing
Pertama, gunakan mendengar aktif untuk memahami kebutuhan anak. Misalnya, ia butuh istirahat setelah lelah di sekolah. Kemudian, sampaikan kebutuhan Anda dengan pesan-aku. Contohnya, “Ibu khawatir kalau kamu mengerjakan PR malam hari, kamu jadi kurang tidur.”
2. Kumpulkan Ide Solusi Bersama
Selanjutnya, ajak anak memikirkan sebanyak mungkin ide. Jangan menilai dulu. Biarkan anak menyampaikan idenya lebih awal.
3. Evaluasi Setiap Ide
Setelah itu, bahas ide satu per satu. Tanyakan, “Apakah ide ini cocok untuk kita berdua?” Coret ide yang merugikan salah satu pihak.
4. Pilih Solusi Terbaik
Kemudian, sepakati satu solusi yang memenuhi kebutuhan keduanya. Misalnya, anak boleh bermain gawai selama 30 menit, lalu mengerjakan PR sebelum makan malam.
5. Tentukan Cara Menjalankannya
Berikutnya, sepakati detailnya. Siapa yang menyalakan alarm? Di mana anak menyimpan gawai setelah waktunya habis?
6. Evaluasi Kembali
Terakhir, cek bersama setelah beberapa hari. Jika solusi tidak berjalan, ulangi prosesnya tanpa saling menyalahkan.
Kapan Win-Win Tidak Cocok?
Metode ini cocok untuk konflik kebutuhan sehari-hari. Namun, ada hal yang tidak bisa ditawar, misalnya keselamatan dan kesehatan. Memakai sabuk pengaman, misalnya, tetap wajib.
Meski begitu, Anda tetap bisa melibatkan anak dalam caranya. Contohnya, anak boleh memilih kursi atau mainan yang menemaninya selama perjalanan.
Mulai Coba Win-Win Minggu Ini
Smart Parents tidak perlu langsung memakai keenam langkah untuk setiap konflik. Pilih satu konflik yang paling sering berulang di rumah. Lalu, ajak anak duduk bersama saat suasana sedang tenang.
Di Brillikids Leadership School, kami melatih anak memecahkan masalah bersama teman-temannya. Kebiasaan ini akan jauh lebih kuat jika anak juga mengalaminya di rumah.
Pada akhirnya, konflik dengan anak bukan pertandingan yang harus kita menangkan. Konflik adalah kesempatan untuk mengajarkan bahwa setiap orang di rumah layak didengar.






