Smart Parents, tidak semua konflik dengan anak bisa selesai lewat mendengar aktif, pesan-aku, atau win-win. Ada konflik yang menyentuh hal lebih dalam, yaitu nilai dan keyakinan. Thomas Gordon menyebutnya values collision atau benturan nilai.
Benturan nilai biasanya mulai terasa saat anak beranjak remaja. Pada masa ini, ia mulai punya pendapat sendiri tentang banyak hal. Kadang, pendapat itu berbeda jauh dari nilai yang kita pegang.
Apa Bedanya dengan Konflik Kebutuhan?
Konflik kebutuhan punya dampak nyata bagi orang tua. Misalnya, TV yang terlalu keras membuat Anda tidak bisa mendengar telepon.
Sebaliknya, benturan nilai sering tidak berdampak langsung pada Anda. Anda hanya merasa ada yang tidak sejalan dengan keyakinan Anda. Karena itu, pesan-aku dan win-win sering tidak cukup. Anak bisa saja bertanya, “Memangnya ini merugikan Bunda?”
Contoh Benturan Nilai Sehari-hari
Berikut beberapa situasi yang sering orang tua alami:
- Gaya berpakaian. Anak remaja ingin tampil dengan gaya yang menurut Anda kurang pantas.
- Pilihan hiburan. Anak menyukai musik atau film yang bertentangan dengan nilai keluarga.
- Praktik ibadah. Anak mulai malas salat atau berdoa, padahal Anda sangat menghargainya.
- Pilihan teman. Anak berteman dengan orang yang menurut Anda kurang baik.
Situasi seperti ini sering memicu pertengkaran panjang. Lalu, apa yang bisa Smart Parents lakukan?
4 Hal yang Bisa Anda Lakukan Saat Benturan Nilai
1. Menjadi Konsultan
Seorang konsultan yang baik memberi pandangan, lalu menghormati keputusan kliennya. Begitu pula orang tua.
Bagikan pandangan Anda sekali, dengan tenang dan jelas. Jelaskan alasannya, termasuk pengalaman Anda sendiri. Setelah itu, hindari mengulang nasihat yang sama setiap hari. Nasihat yang terus diulang biasanya terdengar seperti omelan, sehingga anak justru menutup diri.
2. Hidup Sebagai Teladan
Pada dasarnya, anak lebih banyak meniru apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Riset mendukung hal ini.
Pada 1975, psikolog Philippe Rushton meneliti perilaku murah hati pada anak. Hasilnya, anak lebih terpengaruh oleh contoh tindakan orang dewasa daripada oleh nasihat lisan. Jadi, jika Anda ingin anak rajin beribadah, tunjukkan bahwa ibadah memberi makna bagi hidup Anda.
3. Mencari Kesepakatan
Ajak anak berdialog tentang nilai. Tujuannya bukan untuk menang, melainkan untuk saling memahami.
Misalnya, tanyakan, “Apa yang membuatmu suka gaya ini?” Dengarkan jawabannya dengan sungguh-sungguh. Sering kali, Anda menemukan alasan yang masuk akal. Dari situ, kesepakatan lebih mudah tercapai, misalnya gaya bebas untuk acara santai dan pakaian rapi untuk acara keluarga.
4. Mengubah Diri Sendiri
Langkah terakhir ini paling menantang. Kadang, kita perlu memeriksa ulang nilai kita sendiri.
Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini nilai inti, atau hanya selera pribadi?” Gaya rambut, misalnya, mungkin hanya soal selera. Sementara itu, kejujuran dan rasa hormat adalah nilai inti. Dengan memilah keduanya, Anda bisa lebih longgar pada hal kecil dan tetap tegas pada hal penting.
Kapan Orang Tua Tetap Harus Tegas?
Pendekatan konsultan paling cocok untuk anak remaja. Untuk anak yang lebih kecil, orang tua tetap perlu menetapkan batas yang jelas.
Selain itu, ada situasi yang tidak bisa diserahkan begitu saja kepada anak. Contohnya, pertemanan yang melibatkan narkoba, kekerasan, atau bahaya lain. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama.
Mulai dari Satu Benturan Nilai
Smart Parents bisa mulai dengan memilih satu benturan nilai yang paling sering terjadi di rumah. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini nilai inti atau selera?
Di Brillikids Leadership School, kami menanamkan nilai melalui keteladanan dan dialog, bukan sekadar aturan. Kami percaya anak yang memahami alasan di balik sebuah nilai akan memegangnya lebih lama.
Pada akhirnya, benturan nilai bukan tanda hubungan yang gagal. Ini tanda bahwa anak sedang belajar menjadi pribadi yang utuh. Tugas kita adalah tetap menjadi teladan dan sahabat yang bisa ia percaya.






