Smart Parents, setiap hari anak menghadapi masalah. Ada yang rebutan mainan, ada soal matematika yang sulit, ada juga tekanan dari teman. Kita memang ingin selalu membantu. Namun, tugas kita bukan menyelesaikan semua masalahnya. Tugas kita adalah melatih kemampuan problem solving anak agar ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Anak yang terampil memecahkan masalah tidak mudah menyerah. Ia mampu mengelola emosi, berpikir kreatif, dan terus mencoba sampai menemukan jalan keluar.
Tentu saja, cara melatihnya berbeda di setiap usia. Karena itu, artikel ini membaginya menjadi strategi umum dan strategi sesuai tahap usia.
3 Strategi Umum untuk Semua Usia
1. Tunjukkan Cara Anda Memecahkan Masalah
Saat Anda menghadapi masalah, pikirkan solusinya dengan suara keras di depan anak. Misalnya, “Wah, ban motor Ayah kempis. Ayah bisa pompa sendiri, atau mampir ke bengkel. Mana yang lebih cepat, ya?”
Selain itu, tunjukkan bahwa solusi pertama tidak selalu berhasil, dan itu wajar. Ajarkan juga untuk fokus pada hal yang bisa kita kendalikan.
2. Minta Pendapat Anak
Sesekali, mintalah saran anak untuk masalah Anda. Misalnya, “Menurutmu, bagaimana caranya supaya pagi kita tidak terburu-buru?”
Dengan begitu, anak merasa idenya dihargai. Akibatnya, ia lebih percaya diri saat menghadapi masalahnya sendiri.
3. Jangan Langsung Memberi Jawaban
Bagian ini memang paling sulit. Namun, biarkan anak berjuang sebentar. Kadang ia gagal, lalu belajar dari akibatnya. Proses inilah yang membentuk kemampuannya.
Usia 3–5 Tahun: Tenangkan Emosi Lebih Dulu
Anak kecil sulit berpikir jernih saat sedang tantrum. Karena itu, langkah pertama adalah membantunya menenangkan diri.
Psikolog John Gottman menyebut pendekatan ini emotion coaching. Pertama, beri nama pada perasaannya. Misalnya, “Kamu kesal karena adik memakai mainan yang kamu mau.” Kedua, ajak anak ke sudut tenang sampai emosinya reda. Ketiga, baru ajak ia mencari solusi bersama, dengan lebih banyak mendengar daripada bicara.
Saat anak frustrasi, coba katakan, “Tunjukkan bagian yang sulit.” Kalimat sederhana ini membantu anak menemukan inti masalahnya. Setelah itu, masalah terasa lebih kecil dan lebih mudah diatasi.
Selain itu, manfaatkan waktu bermain dan membaca buku. Saat membaca cerita, berhentilah di bagian tokoh menghadapi masalah. Lalu, tanyakan, “Menurutmu, apa yang sebaiknya ia lakukan?” Psikolog Grover Whitehurst menyebut cara membaca interaktif ini sebagai dialogic reading. Penelitiannya menunjukkan cara ini membantu perkembangan bahasa anak usia dini.
Usia 6–8 Tahun: Ajarkan Langkah yang Konsisten
Pada usia ini, anak sudah bisa mengikuti langkah sederhana. Ajarkan lima pertanyaan berikut:
- Apa yang aku rasakan? Menamai perasaan membantu anak lebih tenang.
- Apa masalahnya? Ajak anak melihat perannya sendiri, bukan hanya menyalahkan orang lain.
- Apa saja solusinya? Kumpulkan ide sebanyak mungkin tanpa menilai dulu.
- Apa yang terjadi jika…? Pikirkan akibat setiap solusi. Apakah aman? Apakah adil?
- Mana yang akan aku coba? Pilih satu, lalu evaluasi hasilnya.
Latih langkah ini berulang kali sampai menjadi kebiasaan. Di samping itu, ajukan pertanyaan terbuka setiap hari. Contohnya, “Bagaimana caramu menyelesaikannya?” atau “Apa yang akan kamu lakukan berbeda lain kali?”
Usia 9–12 Tahun: Pecah Masalah Besar
Seiring bertambah usia, masalah anak juga makin besar. Misalnya, nilai IPS-nya turun. Ajak anak memecah masalah itu menjadi bagian kecil.
Apakah karena tugas yang terlewat? Atau karena sulit fokus saat ujian? Setelah penyebabnya jelas, selesaikan satu per satu.
Kemudian, beri tantangan kreatif. Siapkan sedotan, karet gelang, kardus, dan selotip. Lalu, tantang anak membuat jembatan yang bisa menahan buku. Biasanya, anak butuh beberapa kali percobaan sampai berhasil. Justru di situlah ia belajar.
Anda juga bisa melatihnya lewat keinginan anak sendiri. Saat ia ingin membeli sesuatu, ajak ia menyusun rencana untuk mendapatkannya. Misalnya, menabung dari uang saku atau menjual kerajinan buatannya.
Usia Remaja: Beri Proyek Nyata
Remaja butuh tantangan yang terasa bermakna. Dorong mereka mengerjakan proyek nyata, misalnya membuat kanal video edukasi atau usaha kecil.
Selain itu, ajarkan metode SODAS untuk mengambil keputusan:
- Situasi: Apa yang sedang terjadi?
- Opsi: Apa saja pilihannya?
- Kekurangan: Apa sisi negatif setiap pilihan?
- Kelebihan: Apa sisi positifnya?
- Solusi: Pilihan mana yang terbaik?
Terakhir, ajak remaja bergabung dengan kegiatan seperti debat, olimpiade sains, robotik, atau Pramuka. Kegiatan berkelompok melatih mereka memecahkan masalah bersama orang lain.
Mulai Melatih Kemampuan Problem Solving Anak Hari Ini
Smart Parents tidak perlu menerapkan semua cara sekaligus. Pilih satu strategi yang paling cocok dengan usia anak Anda, lalu latih secara konsisten.
Di Brillikids Leadership School, kami melatih anak memecahkan masalah lewat diskusi, proyek, dan kerja kelompok. Kebiasaan ini akan jauh lebih kuat jika orang tua juga melatihnya di rumah.
Pada akhirnya, kemampuan problem solving anak tumbuh dari kesempatan, bukan dari jawaban yang kita berikan. Setiap kali kita menahan diri untuk tidak langsung menolong, kita sedang memberi anak kesempatan untuk tumbuh.






