7 Cara Melatih Komunikasi dan Kolaborasi Anak di Rumah

Ronal Hutagalung

Komunikasi dan kolaborasi anak menurut kerangka P21
Komunikasi dan kolaborasi anak menurut kerangka P21

Smart Parents, anak yang pintar belum tentu sukses. Ia juga perlu mampu menyampaikan idenya dan bekerja sama dengan orang lain. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi anak menjadi dua keterampilan penting di abad 21. Kabar baiknya, rumah adalah tempat latihan terbaik untuk keduanya.

Partnership for 21st Century Learning (P21) memasukkan keduanya ke dalam kelompok keterampilan 4C. Sebelumnya, kita sudah membahas kreativitas dan berpikir kritis. Kini, saatnya membahas dua keterampilan terakhir.

Mengapa Bicara Saja Tidak Cukup?

Banyak orang mengira anak yang banyak bicara pasti pandai berkomunikasi. Padahal, komunikasi yang baik lebih dari sekadar bicara.

Menurut P21, anak perlu mampu menyampaikan pikiran dengan jelas, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan memilih cara yang tepat untuk setiap tujuan. Selain itu, ia perlu mampu bekerja sama dengan orang yang berbeda darinya.

Penelitian Neil Mercer dan rekannya di Inggris memberi bukti menarik. Mereka mengajari anak SD aturan sederhana saat berdiskusi, misalnya memberi alasan dan menanggapi pendapat teman. Hasilnya, kemampuan bernalar anak-anak itu meningkat. Dengan kata lain, cara anak berbicara bersama memengaruhi cara ia berpikir.

Bagian 1: Berkomunikasi dengan Jelas

1. Latih Anak Menyampaikan Ide dengan Runtut

Pertama, bantu anak menyusun ceritanya. Saat ia bercerita tentang harinya, ajukan pertanyaan pemandu. Misalnya, “Lalu apa yang terjadi?” atau “Bagaimana akhirnya?”

Untuk anak yang lebih besar, ajak ia menulis surat ucapan atau kartu ulang tahun. Kemudian, latih juga komunikasi nonverbal, seperti kontak mata, senyum, dan sikap tubuh saat berbicara.

2. Ajarkan Mendengar untuk Memahami

Mendengar yang baik bukan hanya menangkap kata-kata. Anak juga perlu menangkap perasaan dan maksud di balik ucapan orang lain.

Sebagai latihan, tanyakan setelah anak mendengar cerita temannya, “Menurutmu, temanmu sedang merasa apa?” Cara terbaik melatihnya adalah memberi contoh. Jadi, dengarkan anak dengan penuh perhatian, seperti yang pernah kita bahas dalam artikel tentang mendengar aktif.

3. Kenalkan Tujuan yang Berbeda

Kita berbicara untuk tujuan yang berbeda-beda. Kadang untuk memberi informasi, kadang untuk mengajak, kadang untuk menyemangati.

Untuk itu, buat permainan sederhana. Minta anak meyakinkan Anda agar keluarga makan malam di luar. Setelah itu, minta ia menjelaskan cara membuat teh kepada adiknya. Lama-kelamaan, anak sadar bahwa setiap tujuan butuh cara bicara yang berbeda.

4. Pilih Media yang Tepat

Anak zaman sekarang mengenal banyak media, mulai dari pesan suara, video, hingga gambar. Namun, ia perlu belajar memilih media yang paling cocok.

Misalnya, tanyakan, “Kalau mau minta maaf ke Nenek, lebih baik lewat pesan singkat, telepon, atau datang langsung? Kenapa?” Setelah itu, ajak anak menilai hasilnya. Apakah pesannya sampai dengan baik?

5. Biasakan Anak dengan Banyak Bahasa

Indonesia kaya akan bahasa daerah. Di samping itu, banyak keluarga juga mengenalkan bahasa Inggris sejak dini.

Manfaatkan kekayaan ini. Ajak anak mengenal bahasa daerah dari kakek dan nenek, sekaligus belajar bahasa asing. Anak yang terbiasa dengan beragam bahasa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

Bagian 2: Berkolaborasi dengan Orang Lain

6. Beri Proyek Bersama

Kolaborasi tumbuh lewat pengalaman nyata. Karena itu, beri anak proyek yang harus ia kerjakan bersama saudara atau temannya.

Contohnya, memasak menu makan malam, merapikan gudang, atau membuat pentas kecil untuk keluarga. Selanjutnya, biarkan anak membagi tugas sendiri. Setelah selesai, ajak ia menyebutkan kontribusi setiap anggota tim. Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap orang punya peran berharga.

7. Ajarkan Seni Berkompromi

Bekerja sama berarti siap mengalah demi tujuan bersama. Sayangnya, banyak anak menganggap mengalah berarti kalah.

Untuk itu, saat anak berselisih dengan saudaranya, jangan langsung memutuskan siapa yang benar. Sebaliknya, ajak mereka mencari solusi yang bisa diterima semua pihak. Cara ini sejalan dengan metode win-win yang pernah kita bahas sebelumnya.

Peran Orang Tua: Menjadi Teladan

Anak meniru cara kita berbicara dan bekerja sama. Jika kita sering memotong pembicaraan, anak pun akan melakukannya.

Oleh karena itu, tunjukkan cara berdiskusi yang sehat di rumah. Misalnya, ajak seluruh keluarga menentukan tujuan liburan bersama. Beri setiap orang kesempatan bicara, termasuk anak terkecil.

Mulai Melatih Komunikasi dan Kolaborasi Anak Hari Ini

Smart Parents tidak perlu menerapkan semua cara sekaligus. Pilih satu cara minggu ini, lalu jadikan kebiasaan keluarga.

Di Brillikids Leadership School, kami melatih anak berbicara di depan kelas, berdiskusi, dan mengerjakan proyek dalam tim. Kami percaya pemimpin sejati mampu menyampaikan visinya dan menggerakkan orang lain untuk mewujudkannya.

Pada akhirnya, komunikasi dan kolaborasi anak bukan soal pandai bicara. Keterampilan ini adalah kemampuan untuk saling memahami dan mencapai tujuan bersama.

Artikel Terkait