Pola Asuh Demokratis vs Otoriter: Mana yang Membentuk Anak Lebih Mandiri?

Ronal Hutagalung

perbandingan pola asuh demokratis dan pola asuh otoriter
perbandingan pola asuh demokratis dan pola asuh otoriter

Smart Parents, pernahkah Anda merasa anak hanya menurut saat diawasi? Begitu Anda lengah, anak kembali melanggar aturan. Situasi ini sering menjadi tanda bahwa kita perlu meninjau ulang pola asuh di rumah. Salah satu pilihan yang banyak riset dukung adalah pola asuh demokratis.

Bayangkan dua rumah dengan masalah yang sama. Anak menolak berhenti bermain gawai saat waktu belajar tiba.

Di rumah pertama, orang tua berkata, “Matikan sekarang, atau gawai Ibu sita seminggu!” Anak pun menurut sambil cemberut.

Di rumah kedua, orang tua duduk di samping anak. “Ibu lihat kamu sedang seru main. Tapi sekarang waktunya belajar. Menurutmu, bagaimana caranya supaya keduanya bisa jalan?”

Kedua cara itu sama-sama punya tujuan baik. Namun, hasil jangka panjangnya sangat berbeda.

Dua Pendekatan, Dua Tujuan Berbeda

Psikolog Diana Baumrind meneliti pola asuh sejak 1960-an. Ia menemukan bahwa cara orang tua menggabungkan kehangatan dan aturan sangat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Secara sederhana, kita bisa membandingkan dua pendekatan berikut.

Pola asuh otoriter bertujuan membuat anak patuh. Fokusnya pada kebutuhan orang tua. Caranya memakai hadiah dan hukuman, sehingga selalu ada pihak yang menang dan kalah.

Pola asuh demokratis bertujuan membangun sikap saling hormat. Fokusnya pada kebutuhan anak sekaligus orang tua. Caranya lewat dialog dan pemecahan masalah bersama, sehingga kedua pihak sama-sama menang.

Dari Mana Disiplin Anak Berasal?

Perbedaan paling penting ada pada sumber disiplin.

Dalam pola asuh otoriter, disiplin datang dari luar. Anak berbuat baik karena ada yang mengawasi. Akibatnya, ia lebih sibuk menghindari hukuman daripada memahami alasan sebuah aturan.

Psikolog Julian Rotter menyebut hal ini sebagai lokus kontrol. Anak dengan lokus kontrol eksternal merasa orang lain yang menentukan hidupnya. Sebaliknya, anak dengan lokus kontrol internal merasa mampu mengatur dirinya sendiri.

Pola asuh demokratis menumbuhkan lokus kontrol internal. Anak belajar berdisiplin dari dalam diri. Ia berbuat baik karena peduli pada dirinya dan orang lain, bukan karena takut.

Melakukan Kepada Anak atau Bersama Anak?

Coba perhatikan cara kita berinteraksi sehari-hari. Apakah kita lebih sering melakukan sesuatu kepada anak, atau bersama anak?

Pola otoriter bergerak dari atas ke bawah. Orang tua memutuskan, lalu anak menjalankan. Sementara itu, pola demokratis bersifat kolaboratif. Orang tua lebih banyak mendengarkan sebelum memutuskan.

Riset pun mendukung pendekatan kedua. Martin Pinquart melakukan meta-analisis pada 2016. Hasilnya, pola asuh yang hangat dan tetap tegas berkaitan dengan prestasi akademik anak yang lebih baik. Di sisi lain, pola asuh yang keras dan mengekang justru berkaitan dengan prestasi yang lebih rendah.

Demokratis Bukan Berarti Serba Boleh

Ada satu salah paham yang perlu kita luruskan. Pola asuh demokratis tidak sama dengan membiarkan anak melakukan apa saja.

Batas tetap ada dan tetap tegas. Bedanya, orang tua menjelaskan alasan di balik batas itu. Selain itu, anak juga mendapat ruang untuk menyampaikan pendapat.

Misalnya, waktu belajar tetap wajib. Namun, anak boleh ikut menentukan apakah ia belajar sebelum atau sesudah mandi sore.

Mulai Menerapkan Pola Asuh Demokratis

Smart Parents tidak perlu berubah total dalam sehari. Mulailah dari satu kebiasaan kecil minggu ini.

Setiap kali ingin berkata “Pokoknya!”, berhentilah sejenak. Lalu, ganti dengan pertanyaan, “Menurutmu, apa jalan keluar yang adil untuk kita berdua?”

Pendekatan inilah yang kami jalankan di Brillikids Leadership School. Kami percaya anak yang terbiasa diajak berdialog akan tumbuh menjadi pemimpin yang mandiri dan peduli. Karena itu, kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi kunci.

Pada akhirnya, pola asuh demokratis bukan soal siapa yang berkuasa di rumah. Pola asuh ini soal bagaimana orang tua dan anak tumbuh bersama dengan saling menghormati.

Artikel Terkait