Smart Parents, pernahkah anak tiba-tiba diam saat Anda baru mulai bicara? Bisa jadi, tanpa sadar kita sedang memakai penghambat komunikasi. Memang, kalimatnya terdengar wajar, bahkan penuh kasih sayang. Namun, kalimat itu justru menutup pintu percakapan.
Thomas Gordon, penulis Parent Effectiveness Training, mencatat dua belas respons yang paling sering menghambat komunikasi. Ia menyebutnya 12 roadblocks. Menariknya, hampir semua orang tua memakainya setiap hari.
Sebelum belajar mendengar aktif, mari kita kenali dulu penghambatnya.
Satu Kalimat, Dua Belas Respons
Bayangkan anak pulang dan berkata, “Aku benci matematika! Aku bodoh!”
Lalu, perhatikan dua belas respons berikut. Mana yang paling sering Anda ucapkan?
Kelompok 1: Langsung Memberi Jalan Keluar
1. Memerintah. “Sudah, kerjakan saja PR-nya sekarang.”
2. Mengancam. “Kalau nilaimu jelek lagi, HP Ibu sita.”
3. Berkhotbah atau menasihati moral. “Anak yang baik itu tidak boleh mengeluh.”
4. Memberi solusi. “Coba kamu ikut les saja.”
5. Berargumen atau mengkuliahi. “Matematika itu penting. Nanti kalau kerja, semua pakai hitungan.”
Akibatnya, kelima respons ini membuat anak merasa tidak dipercaya. Dengan kata lain, pesan tersembunyinya berbunyi, “Kamu tidak mampu menyelesaikan masalahmu sendiri.”
Kelompok 2: Menilai Anak
6. Mengkritik. “Itu karena kamu malas latihan.”
7. Memuji berlebihan. “Ah, kamu kan anak paling pintar sedunia.”
8. Memberi nama atau label. “Dasar cengeng.”
9. Menganalisis atau mendiagnosis. “Kamu begini pasti karena capek main game.”
Sementara itu, respons kelompok kedua membuat anak merasa sedang diadili. Bahkan pujian pun bisa terasa tidak tulus. Lama-kelamaan, anak memilih berhenti bercerita.
Kelompok 3: Menghindari Perasaan Anak
10. Menghibur atau mengalihkan. “Sudah, jangan dipikirkan. Yuk, beli es krim.”
11. Menginterogasi. “Nilai berapa? Siapa yang dapat nilai lebih bagus? Kenapa bisa begitu?”
12. Mengejek atau sarkasme. “Wah, calon profesor matematika nih.”
Kelompok terakhir ini terasa ringan. Namun, pesannya jelas bagi anak: perasaanmu tidak penting.
Mengapa Niat Baik Bisa Menjadi Penghambat Komunikasi?
Pada dasarnya, masalah utamanya bukan pada niat kita. Sebenarnya, kita ingin anak merasa lebih baik. Kita juga ingin masalahnya cepat selesai.
Hanya saja, kedua belas respons tadi melompati satu hal penting, yaitu perasaan anak. Padahal, saat sedang kesal, anak belum siap menerima nasihat atau solusi. Ia lebih dulu butuh merasa dipahami.
Psikolog Haim Ginott sudah mengingatkan hal ini sejak 1960-an. Menurutnya, anak baru bisa berpikir jernih setelah perasaannya diakui. Selama perasaan itu masih penuh, nasihat terbaik pun tidak akan masuk.
Apakah Semua Respons Ini Selalu Salah?
Tidak juga. Gordon menegaskan bahwa respons ini menjadi penghambat terutama saat anak sedang punya masalah.
Sebaliknya, saat suasana tenang, memberi saran atau bertanya justru bisa sangat bermanfaat. Jadi, kuncinya ada pada waktu yang tepat.
Cara Mengganti Penghambat Komunikasi
Smart Parents tidak perlu langsung menghapus kedua belas respons ini. Sebaliknya, mulailah dengan menyadarinya.
Pertama, pilih satu penghambat yang paling sering Anda pakai. Kemudian, setiap kali kalimat itu hampir keluar, tahan sejenak. Setelah itu, ganti dengan kalimat yang memantulkan perasaan anak.
Contohnya, “Kamu kesal ya, karena soal matematikanya terasa sulit.” Kalimat ini membuka pintu. Biasanya, anak akan bercerita lebih banyak. Teknik ini kami bahas lengkap dalam artikel tentang mendengar aktif.
Di Brillikids Leadership School, kami juga membiasakan guru untuk mendengar sebelum menasihati. Hasilnya akan jauh lebih kuat jika orang tua melakukan hal yang sama di rumah.
Pada akhirnya, menghindari penghambat komunikasi bukan berarti kita berhenti membimbing anak. Kita hanya menunda nasihat sampai anak benar-benar siap mendengarnya.






