Smart Parents, apa yang biasanya Anda lakukan saat anak pulang dengan wajah sedih? Banyak dari kita langsung memberi nasihat, menghibur, atau mencari solusi. Tentu saja, niatnya baik. Namun, anak sering justru makin tertutup. Di sinilah mendengar aktif menjadi skill yang sangat penting.
Dalam artikel sebelumnya tentang jendela perilaku anak, kita sudah mengenal tiga area. Mendengar aktif adalah skill untuk area pertama, yaitu saat anak yang punya masalah.
Thomas Gordon merangkum alasannya dalam satu prinsip: anak yang merasa didengar akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bisa mendengar.
Mengapa Nasihat Sering Tidak Berhasil?
Bayangkan anak pulang sekolah dan berkata, “Aku nggak mau sekolah lagi. Riko jahat!”
Biasanya, respons kita terdengar seperti ini:
- “Sudah, jangan cengeng.”
- “Kamu juga pasti salah, kan?”
- “Besok bilang saja ke guru.”
- “Ah, nanti juga baikan lagi.”
Gordon menyebut respons semacam ini sebagai penghalang komunikasi. Ia mencatat ada dua belas jenis, misalnya memerintah, menasihati, menghakimi, dan menghibur terlalu cepat.
Masalahnya, semua respons itu melompati perasaan anak. Akibatnya, anak merasa tidak dipahami. Ia pun berhenti bercerita.
Apa Itu Mendengar Aktif?
Mendengar aktif berarti menangkap perasaan di balik kata-kata anak, lalu memantulkannya kembali. Kita tidak menambah nasihat atau penilaian.
Dengan contoh tadi, responsnya bisa seperti ini: “Kamu kesal sekali ya sama Riko. Sepertinya tadi ada kejadian yang bikin kamu sakit hati.”
Memang, kalimat itu sederhana. Namun, efeknya besar. Anak merasa perasaannya sah dan dimengerti. Biasanya, ia lalu bercerita lebih banyak.
Apa Kata Riset?
Riset modern mendukung cara ini. Psikolog Matthew Lieberman dari UCLA meneliti apa yang terjadi saat seseorang memberi nama pada perasaannya. Hasilnya, aktivitas amigdala, bagian otak yang memicu reaksi emosi kuat, ikut menurun.
Artinya, saat Anda membantu anak menamai perasaannya, Anda sedang membantu otaknya menjadi lebih tenang.
Selain itu, John Gottman meneliti ratusan keluarga. Ia menemukan bahwa anak dari orang tua yang peka pada emosi anak cenderung lebih mampu mengatur emosinya. Mereka juga lebih baik dalam berteman dan belajar.
Empat Langkah Mendengar Aktif
1. Hentikan Aktivitas Anda
Pertama, letakkan ponsel, lalu tatap mata anak. Sikap tubuh Anda sudah menyampaikan pesan, “Kamu penting bagiku.”
2. Buka Pintu Percakapan
Gunakan kalimat pembuka yang ringan. Misalnya, “Kelihatannya ada yang mengganggu pikiranmu. Mau cerita?”
3. Pantulkan Perasaannya
Setelah itu, sebutkan perasaan yang Anda tangkap. Contohnya, “Kamu kecewa,” “Kamu takut,” atau “Kamu merasa tidak adil.” Jika tebakan Anda keliru, anak akan meluruskannya. Itu pun tetap membantu.
4. Percayai Anak Menemukan Jalan Keluar
Kemudian, tahan keinginan untuk langsung memberi solusi. Setelah perasaannya reda, tanyakan, “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan?” Sering kali, anak menemukan jawabannya sendiri.
Kapan Mendengar Aktif Tidak Tepat?
Namun, perlu Anda ingat bahwa mendengar aktif hanya cocok saat anak yang punya masalah. Jika perilaku anak justru mengganggu Anda, gunakan skill lain, yaitu pesan-aku.
Selain itu, dalam situasi berbahaya, keselamatan tetap nomor satu. Hentikan dulu bahayanya, baru dengarkan perasaannya.
Mulai Latih Mendengar Aktif Minggu Ini
Untungnya, Smart Parents tidak perlu langsung mahir. Cukup pilih satu momen setiap hari untuk berlatih. Misalnya, saat menjemput anak sepulang sekolah.
Di Brillikids Leadership School, kami melatih anak untuk mengenali dan menyampaikan perasaannya. Kemampuan ini akan tumbuh jauh lebih cepat jika orang tua juga mendengar aktif di rumah.
Pada akhirnya, mendengar aktif adalah hadiah sederhana untuk anak. Anda tidak sedang menyelesaikan masalahnya. Anda sedang mengajarinya bahwa perasaannya layak didengar.






