Smart Parents, memahami teori itu mudah. Namun, mempraktikkannya saat anak sedang menangis atau marah jauh lebih sulit. Karena itu, artikel ini fokus pada latihan mendengar aktif lewat contoh kalimat yang bisa langsung Anda pakai.
Mendengar aktif berarti menangkap perasaan dan kebutuhan di balik kata-kata anak. Setelah itu, kita memantulkannya kembali. Tujuannya sederhana, yaitu agar anak tahu bahwa Mama dan Papa benar-benar mengerti.
Skill ini memang sederhana. Meski begitu, kita perlu melatihnya seumur hidup.
4 Langkah Latihan Mendengar Aktif
1. Diam Dulu
Langkah pertama justru yang paling sulit. Tahan keinginan untuk memperbaiki, menasihati, atau menghibur.
Beri ruang bagi anak untuk bicara. Bahkan, diam beberapa detik sering sudah cukup membuat anak melanjutkan ceritanya.
2. Tangkap Perasaannya
Selanjutnya, dengarkan emosi di balik kata-katanya. Apakah ia marah? Takut? Kecewa? Malu?
Anak jarang menyebut perasaannya secara langsung. Misalnya, kalimat “Aku nggak mau ke sekolah!” bisa berarti takut, lelah, atau sedih karena bertengkar dengan teman.
3. Pantulkan Kembali
Kemudian, sampaikan apa yang Anda tangkap. Gunakan pola sederhana ini:
“Kayaknya kamu lagi merasa ___ karena ___, ya?”
Pola ini menyebut dua hal sekaligus, yaitu perasaan dan penyebabnya. Dengan begitu, anak merasa dipahami secara utuh.
4. Periksa Reaksinya
Terakhir, tunggu reaksi anak. Kalau tebakan Anda keliru, anak biasanya akan mengoreksi. Itu justru bagus, karena artinya percakapan terus berjalan.
Contoh Mendengar Aktif dalam Situasi Sehari-hari
Saat Anak Kalah Lomba
Anak: “Aku nggak mau ikut lomba lagi. Jurinya curang!”
Respons biasa: “Sudah, nggak apa-apa. Tahun depan coba lagi.”
Mendengar aktif: “Kayaknya kamu lagi kecewa banget karena sudah latihan keras, tapi hasilnya nggak sesuai harapan, ya?”
Saat Adik Merusak Mainan
Anak: “Adik nyebelin! Aku benci adik!”
Respons biasa: “Nggak boleh bilang benci sama adik sendiri.”
Mendengar aktif: “Kamu marah sekali karena mainan kesayanganmu rusak, ya?”
Saat Anak Menolak Belajar
Anak: “PR-nya susah. Aku nggak bisa!”
Respons biasa: “Masa begitu saja nggak bisa?”
Mendengar aktif: “Sepertinya kamu frustrasi karena sudah mencoba, tapi belum ketemu caranya, ya?”
Perhatikan perbedaannya. Respons biasa langsung menutup percakapan. Sebaliknya, mendengar aktif membuka pintu agar anak mau bercerita lebih banyak.
Perkaya Kosakata Perasaan
Salah satu hambatan terbesar adalah kosakata kita sendiri. Banyak orang tua hanya mengenal kata “sedih” dan “marah”.
Padahal, perasaan anak jauh lebih beragam. Coba perkaya kosakata Anda dengan kata seperti kecewa, cemas, malu, iri, bingung, kesepian, tersinggung, atau frustrasi.
Semakin tepat kata yang Anda pilih, semakin anak merasa dimengerti. Selain itu, anak juga belajar menamai perasaannya sendiri.
Mengapa Kami Menyebutnya Latihan Seumur Hidup?
Mendengar aktif bukan teknik yang bisa langsung Anda kuasai dalam sekali belajar. Kita perlu terus melatihnya, terutama saat sedang lelah atau terburu-buru.
Kabar baiknya, setiap kali Anda mencoba, Anda sedang memberi contoh. Lambat laun, anak pun ikut belajar mendengarkan orang lain.
Di Brillikids Leadership School, kami percaya pemimpin yang baik adalah pendengar yang baik. Karena itu, kebiasaan ini kami tanamkan sejak dini, baik di kelas maupun lewat kerja sama dengan orang tua.
Pada akhirnya, latihan mendengar aktif tidak menuntut Anda sempurna. Cukup pilih satu momen hari ini, lalu coba satu kalimat pantulan. Dari situlah perubahan bermula.






