Dari Supervisor Menjadi Manajer: 5 Skill yang Sering Terlupa

Ronal Hutagalung

Supervisor menjadi manajer memimpin rapat dengan para supervisor
Supervisor menjadi manajer memimpin rapat dengan para supervisor

Mengapa supervisor yang hebat sering goyah saat naik menjadi manajer? Jawabannya sederhana, tetapi jarang orang sadari. Perjalanan dari supervisor menjadi manajer menuntut skill yang sama sekali berbeda.

Seorang supervisor toko pernah naik jabatan menjadi manajer area. Kini, ia membawahi tiga supervisor cabang. Dua bulan kemudian, ia mengeluh kepada saya.

“Coach Ronal, semua keputusan kecil masih naik ke meja saya. Padahal saya sudah punya tiga supervisor.”

Saya bertanya, “Dalam rapat mingguan, apa yang Bapak bahas dengan mereka?”

“Angka penjualan, Coach. Itu saja.”

Memimpin Pemimpin Itu Pekerjaan Baru

Ram Charan menyebut momen ini sebagai tikungan kedua dalam leadership pipeline. Di tikungan pertama, seseorang belajar memimpin pelaksana. Sementara itu, di tikungan kedua, ia harus memimpin para pemimpin.

Menurut Charan, kesalahan paling umum di tikungan ini cukup jelas. Manajer baru memimpin supervisor seolah-olah mereka masih pelaksana. Akibatnya, ia sibuk mengurus detail dan lupa mencetak pemimpin.

Selain itu, manajer juga harus mengubah cara memakai waktunya. Jika dulu ia mengawasi pekerjaan, kini ia harus melatih orang yang mengawasi pekerjaan.

5 Skill Penting dari Supervisor Menjadi Manajer

1. Melatih Supervisor Menjadi Pemimpin

Banyak manajer hanya menagih angka dari supervisornya. Padahal, tugas utamanya adalah membentuk mereka menjadi pemimpin yang efektif.

Karena itu, adakan pertemuan empat mata selama 30 menit setiap minggu. Bahas target, lalu pilih satu skill kepemimpinan yang akan Anda latih. Misalnya, minggu ini fokus pada cara memberi umpan balik.

2. Menilai Cara Memimpin, Bukan Hanya Hasil

Supervisor bisa saja mencapai target, sementara timnya kelelahan dan banyak yang keluar. Hasil seperti itu tidak akan bertahan lama.

Oleh karena itu, nilailah supervisor dari dua sisi. Pertama, hasil kerjanya. Kedua, perilaku kepemimpinannya, misalnya konsistensi rapat tim dan tingkat karyawan yang bertahan.

3. Memberi Wewenang yang Jelas

Banyak manajer berkata, “Silakan ambil keputusan.” Namun, mereka tidak menjelaskan batasannya. Supervisor pun ragu, lalu semua keputusan kembali naik.

Sebagai solusinya, tuliskan hak keputusan setiap level. Tentukan batas anggaran, jadwal, dan hal yang wajib mereka laporkan. Setelah itu, cek pada titik tertentu, bukan pada setiap langkah.

4. Memimpin ke Samping dan ke Atas

Di level ini, masalah terbesar sering muncul antarbagian. Contohnya, bagian penjualan menjanjikan sesuatu yang belum sanggup bagian operasional penuhi.

Maka, manajer perlu membangun koordinasi lintas unit. Selain itu, ia juga harus rutin memberi kabar kepada atasan. Cukup lima hal: angka, risiko, keputusan, dukungan yang perlu, dan langkah berikutnya.

5. Memastikan Pesan Sampai ke Lapangan

Manajer tidak lagi berbicara langsung kepada pelaksana. Akibatnya, pesan bisa berubah saat melewati supervisor.

Jadi, setelah memberi arahan, minta supervisor mengulangnya dengan kata-katanya sendiri. Tanyakan juga langkah pertama dan waktu pengecekannya. Cara sederhana ini mencegah salah paham yang mahal.

Skill Ini Bisa Anda Latih

Kabar baiknya, Anda bisa mempelajari semua skill ini. Tidak ada orang yang lahir langsung pandai memimpin pemimpin.

Manajer area tadi akhirnya mengubah isi rapat mingguannya. Kini, separuh waktunya untuk membahas cara supervisor memimpin tim. Dalam dua bulan, jumlah keputusan yang naik ke mejanya berkurang jauh.

Pada akhirnya, keberhasilan manajer tidak terlihat dari seberapa sibuk dirinya. Sebaliknya, keberhasilan itu terlihat dari seberapa siap para supervisornya memimpin tanpa dirinya.

Lalu, skill mana yang perlu Anda latih lebih dulu agar sukses dari supervisor menjadi manajer?


Artikel Terkait