Membantu Anak Menetapkan Tujuan yang Efektif

Ronal Hutagalung

goal setting anak, tangga tujuan untuk anak
goal setting anak, tangga tujuan untuk anak

Smart Parents, pernahkah anak bersemangat membuat target di awal semester, lalu lupa dua minggu kemudian? Hal ini sangat wajar. Banyak anak, bahkan orang dewasa, tidak pernah belajar cara menetapkan tujuan dengan benar. Karena itu, goal setting anak adalah keterampilan yang perlu kita latih sejak dini.

Kabar baiknya, anak bisa mempelajari cara menetapkan tujuan. Saat anak menguasainya, ia belajar bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Selain itu, ia juga tumbuh dengan sikap “aku bisa” yang akan ia bawa sampai dewasa.

Berikut empat langkah yang bisa Smart Parents praktikkan di rumah.

Langkah 1: Biarkan Anak Memilih Tujuannya Sendiri

Anak lebih bersemangat mengejar tujuan yang ia pilih sendiri. Sebaliknya, tujuan dari orang tua sering terasa seperti beban.

Jadi, alih-alih menentukan target untuk anak, ajak ia berpikir. Ajukan pertanyaan seperti:

  • “Apa yang ingin sekali kamu capai tahun ini?”
  • “Tantangan apa yang akan membuatmu bangga kalau berhasil?”
  • “Kalau kamu yakin tidak mungkin gagal, apa yang ingin kamu coba?”

Setelah itu, bantu anak memilih satu tujuan besar. Pastikan tujuannya spesifik dan bisa diukur.

Misalnya, “Aku mau lebih rajin belajar” masih terlalu kabur. Bandingkan dengan “Aku mau membaca satu buku cerita setiap minggu.” Tujuan kedua jauh lebih jelas, sehingga anak bisa melihat kemajuannya sendiri.

Langkah 2: Diskusikan Alasan di Balik Tujuan

Anak perlu tahu mengapa tujuan itu penting baginya. Tanpa alasan yang kuat, semangatnya akan cepat padam.

Menariknya, riset menunjukkan alasan yang melampaui diri sendiri bisa menjadi pendorong yang sangat kuat. Pada 2014, psikolog David Yeager dan rekannya meneliti hal ini pada pelajar. Hasilnya, pelajar yang melihat manfaat belajarnya bagi orang lain lebih tekun mengerjakan tugas yang membosankan.

Contohnya, anak ingin mendapat nilai bagus di pelajaran IPA. Alasan “supaya nilaiku bagus” memang membantu. Namun, alasan “supaya kelak aku bisa menemukan sesuatu yang menolong banyak orang” jauh lebih bermakna.

Karena itu, tanyakan kepada anak, “Kalau kamu berhasil, siapa saja yang ikut merasakan manfaatnya?”

Langkah 3: Pecah Tujuan Besar Menjadi Langkah Kecil

Tujuan besar sering terasa menakutkan. Akibatnya, anak mudah menyerah sebelum mulai.

Solusinya, pecah tujuan besar menjadi beberapa langkah kecil. Gambarkan sebagai tangga tujuan. Tulis tujuan besar di anak tangga paling atas, lalu tulis langkah-langkah menuju ke sana di bawahnya.

Misalnya, anak ingin bisa naik sepeda sendiri saat liburan. Anak tangga pertama adalah memperhatikan Ayah bersepeda. Kemudian, ia mencoba sepeda dengan roda bantu. Setelah itu, ia mengayuh sambil dipegangi Ayah. Terakhir, ia berlatih sendiri.

Rayakan setiap anak tangga yang berhasil ia naiki. Dengan begitu, anak tetap termotivasi meskipun tujuan besarnya belum tercapai.

Langkah 4: Siapkan Rencana Menghadapi Hambatan

Banyak anak berhenti di tengah jalan karena tidak siap menghadapi hambatan. Di sinilah langkah keempat menjadi sangat penting.

Psikolog Gabriele Oettingen dari New York University menemukan bahwa sekadar berpikir positif tidak cukup. Orang yang terlalu optimis justru cenderung mengabaikan hambatan. Oleh karena itu, Oettingen mengembangkan metode WOOP yang juga cocok untuk goal setting anak:

  • Wish (Keinginan): Apa yang ingin kamu capai?
  • Outcome (Hasil): Bayangkan rasanya saat berhasil.
  • Obstacle (Hambatan): Apa yang bisa menghalangimu?
  • Plan (Rencana): Jika hambatan itu muncul, apa yang akan kamu lakukan?

Bagian terakhir memakai pola “jika–maka”. Contohnya, “Jika aku malas membaca setelah pulang sekolah, maka aku akan membaca lima halaman dulu sebelum main.” Peter Gollwitzer dan Paschal Sheeran merangkum puluhan studi tentang pola ini. Hasilnya, rencana “jika–maka” membantu orang lebih konsisten mencapai tujuannya.

Tips Tambahan Goal Setting Anak: Tuliskan Tujuannya

Ajak anak menuliskan tujuan, tangga langkah, dan rencananya di kertas. Lalu, tempel di tempat yang mudah terlihat, misalnya di pintu kamar atau meja belajar.

Tulisan itu menjadi pengingat setiap hari. Selain itu, anak bisa mencentang setiap langkah yang berhasil ia capai.

Bagaimana Jika Anak Ingin Menyerah?

Wajar jika semangat anak naik turun. Saat ia ingin berhenti, coba lakukan hal berikut:

  • Ingatkan kembali alasan di balik tujuannya.
  • Ajak ia melihat rencana “jika–maka” yang sudah dibuat.
  • Rayakan langkah kecil yang sudah ia capai.
  • Puji usahanya, bukan hanya hasilnya.
  • Ceritakan pengalaman Anda sendiri saat gagal dan bangkit lagi.

Mulai di Awal Semester Ini

Smart Parents bisa memulai minggu ini. Luangkan waktu santai bersama anak, lalu ajak ia memikirkan satu tujuan untuk semester ini.

Di Brillikids Leadership School, kami membiasakan anak menetapkan tujuan pribadi dan memantau kemajuannya sendiri. Kebiasaan ini akan jauh lebih kuat jika orang tua juga mendampinginya di rumah.

Pada akhirnya, goal setting anak bukan soal mengejar nilai tinggi. Ini soal mengajarkan anak bahwa ia mampu merancang masa depannya sendiri, satu langkah kecil demi satu langkah kecil.

Artikel Terkait