Smart Parents, coba ingat kembali saat sekolah tiba-tiba berpindah ke pembelajaran daring. Sebagian anak cepat menyesuaikan diri. Sebaliknya, sebagian lain kesulitan selama berbulan-bulan. Perbedaan ini menunjukkan betapa pentingnya kemampuan adaptasi anak.
Hidup anak kita kelak akan penuh perubahan. Ia mungkin berganti sekolah, pindah kota, atau menekuni pekerjaan yang hari ini belum ada. Karena itu, kecerdasan dan pengetahuan saja tidak cukup.
Partnership for 21st Century Learning (P21) memasukkan fleksibilitas dan adaptasi ke dalam keterampilan hidup dan karier. Menurut P21, anak perlu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sekaligus bersikap lentur saat menghadapi orang lain.
Apakah Kemampuan Ini Bisa Dilatih?
Kabar baiknya, jawabannya ya. Psikolog Adele Diamond menyebut kelenturan berpikir sebagai salah satu dari tiga fungsi eksekutif utama otak. Fungsi ini membantu kita mengganti cara pandang saat situasi berubah.
Menariknya, tinjauan Diamond juga menunjukkan bahwa fungsi eksekutif bisa berkembang lewat latihan. Kegiatan menantang yang anak lakukan berulang kali terbukti membantunya.
Bagian 1: Menyesuaikan Diri dengan Perubahan
1. Beri Anak Peran yang Berganti-ganti
P21 menekankan kemampuan menyesuaikan diri dengan peran, tanggung jawab, dan jadwal yang berbeda. Di rumah, kita bisa melatihnya lewat tugas yang bergilir.
Misalnya, minggu ini anak bertugas menyiram tanaman. Minggu depan, ia membantu menyiapkan meja makan. Selain itu, dalam permainan keluarga, beri anak kesempatan menjadi pemimpin sekaligus anggota tim.
2. Sesekali Ubah Rutinitas
Rutinitas memang memberi anak rasa aman. Namun, rutinitas yang terlalu kaku justru membuat anak panik saat ada perubahan kecil.
Untuk itu, sesekali ubah rutinitas secara sengaja. Contohnya, makan malam di teras, mengambil rute berbeda ke sekolah, atau mencoba menu baru. Sebelumnya, beri tahu anak tentang perubahan itu. Dengan begitu, ia belajar bahwa perubahan bukan ancaman.
3. Latih Anak Menghadapi Ketidakpastian
Anak sering bertanya, “Nanti bagaimana?” Kadang, kita sendiri belum tahu jawabannya.
Daripada memberi janji yang belum pasti, ajak anak menyiapkan beberapa rencana. Misalnya, “Kalau besok hujan, kita main di rumah. Kalau cerah, kita ke taman.” Lama-kelamaan, anak terbiasa menghadapi situasi yang belum jelas dengan tenang.
Bagian 2: Bersikap Lentur kepada Orang Lain
4. Ajarkan Menerima Masukan
Anak yang fleksibel mampu menerima masukan dan memakainya untuk berkembang. Sayangnya, banyak anak langsung merasa diserang saat mendapat koreksi.
Oleh karena itu, ajarkan anak memandang masukan sebagai bantuan. Setelah ia menyelesaikan tugas, tanyakan, “Mau dengar satu saran dari Bunda?” Pertanyaan ini memberi anak kendali. Akibatnya, ia lebih siap mendengar.
Selain itu, beri contoh. Mintalah masukan dari anak, misalnya, “Menurutmu, masakan Ayah hari ini kurang apa?” Lalu, terima jawabannya dengan lapang dada.
5. Hadapi Pujian, Kegagalan, dan Kritik dengan Seimbang
P21 menyebut tiga hal sekaligus, yaitu pujian, kemunduran, dan kritik. Ketiganya perlu anak hadapi dengan sikap positif.
Anak yang terlalu bergantung pada pujian akan rapuh saat menerima kritik. Sebaliknya, anak yang terlalu takut gagal akan berhenti mencoba. Jadi, saat anak gagal, ajak ia bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari dari sini?” Saat anak menerima pujian, ajak ia tetap rendah hati dan terus belajar.
6. Hargai Perbedaan Pandangan dan Budaya
Indonesia adalah negeri yang sangat beragam. Anak kita akan bertemu teman dengan suku, agama, dan kebiasaan yang berbeda.
Menurut P21, anak perlu mampu memahami dan menyeimbangkan pandangan yang berbeda untuk mencapai solusi bersama. Untuk itu, kenalkan anak pada keragaman sejak dini. Ajak ia mencicipi makanan khas daerah lain atau membaca cerita rakyat dari berbagai provinsi. Anda juga bisa mengajaknya berkunjung ke rumah teman yang merayakan hari raya berbeda.
Peran Orang Tua: Tunjukkan Cara Menghadapi Perubahan
Anak belajar paling banyak dari cara kita merespons perubahan. Jika kita panik saat rencana berubah, anak pun akan meniru.
Sebaliknya, tunjukkan sikap yang tenang. Ucapkan dengan suara keras, “Wah, rencananya batal. Ayah kecewa, tapi kita cari cara lain, yuk.” Kalimat sederhana ini mengajarkan bahwa wajar merasa kecewa, tetapi kita tetap bisa bangkit.
Mulai Melatih Kemampuan Adaptasi Anak Hari Ini
Smart Parents tidak perlu menunggu perubahan besar. Mulailah dari perubahan kecil minggu ini, lalu dampingi anak menghadapinya.
Di Brillikids Leadership School, kami memberi anak kesempatan berganti peran, bekerja dalam tim yang beragam, dan belajar dari masukan. Kami percaya pemimpin masa depan adalah mereka yang tetap tenang saat keadaan berubah.
Pada akhirnya, kemampuan adaptasi anak bukan soal menghindari perubahan. Kemampuan ini adalah soal keberanian untuk terus menyesuaikan diri, belajar, dan bertumbuh.






